Selasa, 23 Desember 2014

Kerajaan di Koto Anau, Tahukah Sanak ?

Kerajaan di Koto Anau
Kerajaan di Koto Anau, Tahukah Sanak...? Apakah anda perna ke Solok Sumatera Barat..? yang terletak di kabupaten  di Sumatera Barat terkenal akan penghasil beras terbaik. Terbukti dengan lahan sawah yang cukup luas Solok  merupakan salah satu daerah pengahasil beras di Sumatera Barat. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok  beberapa waktu lalu berhasil membuktikan kepada masyarakat luas dengan meraih prestasi tingkat nasional.

Namun dibalik semua itu, seperti dilansir Ranah Urang Awak Solok juga memiliki potensi wisata yang mungkin orang tidak banyak tahu, jika di Nagari Koto Anau ada sebuah kerajaan. Bahkan, orang Koto Anau sendiri juga banyak tak tahu dengan keberadaan kerajaan Koto Anau tersebut. kononnya kerajaan ini telah ada sejak abad 12 pada masa pemerintahan Pitalo Jombang yang menikah dengan Puti Sari Mayang yang merupakan kerabat Raja Melayu dari Jambi. Jadi berdirinya Kerajaan Koto Anau diduga, setelah keturunan Raja Melayu yang ada di Gunung Selasih (sekarang gunung Talang) turun dari tempat persembunyian tersebut.

Dan setelah ia meninggal, keturunan Raja Koto Anau juga pernah menjadi wali nagari di Koto Anau. Antara lain Mohammad Saleh Dt Bagindo Yang Dipatuan (1902-1020)  dan Thaher Dt Bagindo Yang Dipatuan (1946-1948). Dan hingga saat ini ranji keturunan kerajaan Koto Anau sulit mencarinya.

Namun hal yang paling menarik yakni terdapat hubungan kekerabatan dimana Raja Koto Anau dengan Raja Pagaruyuang memiliki ikatan garis keturunan berasal dari kerajaan melayu. Dalam buku ''Koto Anau dalam tinjauan historis dan wisata'' karangan Zusneli Zubir terbitan BPSNT Padang tahun 2010, diceritakan bahwa bukti-bukti peninggalan Kerajaan Koto Anau antara lain rumah gadang Sembilan ruang, bekas istana raja Koto Anau yang berada di Kampung Dalam Koto Anau, Tepian Puti, tempat mandi para putrid raja, lurah atau ladang rajo, memiliki tiga balai, pandam kuburan, tombak pusaka, peralatan rumah tangga, batu angkek-angkek, lesung salirik tujuh juga ragam hias khas koleksi raja.

''tidak sedikit juga yang bisa kita kembangkan di Koto Anau. Potensi wisata buadayanya juga merupakan salah satu nagari tertua  baik di kabupaten Solok maupun di Minangkabau selain Pariangan di Kabupaten Tanahdatar. Sejak zaman pra sejarah, peninggalan menhir ada sampai saat ini. Batu dakon juga ada. Istana Rajo Koto Anau juga ada. Ini akan menjadi ikon paling menjanjikan untuk pembangunan nagari Koto Anau ke depannya. Mari kita dukung untuk peduli dengan peninggalan sejarah,'' jelas Dra Zusneli Zubir M Hum, salah satu pembicara dalam diskusi sejarah dan budaya Koto Anau.

Dan tentunya bisa kita lihat pula yang dapat kita saksikan dalam kegiatan ''Musyawarah Tungku Tigo Sajarangan'' di Nagari Koto Anau 17-18 Desember 2011. Kegiatan yang mendatangkan para perantau baik di Jawa maupun di Pekanbaru dibuka langsung oleh Bupati Solok Syamsu Rahim di Masjid Raya Koto Anau Sabtu 17 Desember 2011. Dengan berbagai kegiatan antara lain gelar seni anak nagari, makan bajamba, diskusi sejarah dan gerak jalan santai.

Adapun kegiatan  ini merupakan bagian dari ''Mambangkik Batang Tarandam Manaruko Maso Katibo''. Ini juga jadi tugas berat bagi masyarakat secara umum dan para cadiak pandai, alim ulama dan ninik mamak secara khusus. Lewat kegiatan ''musyarawarah tungku tigo sajarangan''  ini juga mengimpun kekuatan untuk membangun nagari dengan pendekatan budaya dan sejarah di kabupaten Solok.

Dan bukti dari peninggalan Kerajaan Koto Anau sampai saat ini masih terdapat di beberapa tempat di Nagari Koto Anau. Namun,  beberapa peninggalan sudah hancur bahkan ada yang hilang. Ini tentu harus segera diselamatkan. Karena jika tidak ada tindakan tentunya ini akan mencoret bangsa kita sendiri karena tidak menghargai sejarah dan melestarikan potensi wisatanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini